"Selamat Datang di Website SD Plus Hang Tuah 1 Jakarta"

Potensi Bahari di Pantai Utara

Deretan pekerja pada industri ikan asin tampak membalikkan ikan yang dijemur di atas papan anyaman bambu, di bawah terik matahari, Kamis (9/4/2015). Mereka berdiri di antara papan penjemuran ikan yang memenuhi kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari, Kota Tegal, Jawa Tengah, hingga menyerupai lautan ikan asin.Kota Tegal dan sektor perikanan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Sebagai daerah yang terletak di pinggir Laut Jawa, dengan panjang garis pantai 7,5 kilometer, hasil perikanan menjadi salah satu potensi terbesar di wilayah jalur perlintasan pantura itu.
Sejak puluhan tahun silam, sebagian masyarakat di pesisir Tegal menggantungkan hidup pada mencari ikan. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal tahun 2014, jumlah nelayan di Kota Tegal mencapai 12.589 orang, terdiri dari 630 juragan atau pemilik kapal serta 11.959 buruh nelayan atau anak buah kapal (ABK). Jumlah kapal sebanyak 955 unit, dengan sekitar tujuh jenis alat tangkap, yaitu purseseine, gillnet, trammel net, jaring arad, cantrang, pukat pantai, dan badong.
Sejak 2010 hingga 2014, produksi perikanan tangkap di Kota Tegal cenderung fluktuatif, tetapi nilai produksinya terus meningkat. Pada 2010, produksi perikanan tangkap sekitar 20.323,8 ton dengan nilai Rp 135,61 miliar, produksi pada 2011 sekitar 29.516 ton dengan nilai Rp 198,9 miliar, produksi pada 2012 mencapai 27.170,4 ton dengan nilai Rp 206,8 miliar. Adapun volume produksi pada 2013 sekitar 23.474 ton dengan nilai Rp 233,1 miliar dan pada 2014 volume produksi perikanan tangkap di Kota Tegal mencapai 25.123,7 ton dengan nilai Rp 255,2 miliar.
Perkembangan sektor perikanan tangkap tidak terlepas dari perkembangan teknologi. Dahulu, perikanan tangkap di Tegal hanya berkembang dengan peralatan sederhana, berupa perahu layar dan dayung.
“Sejak tahun 1950-an, sudah ada nelayan yang mencari ikan, menggunakan perahu layar atau perahu dayung,” kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal Mahmud Effendi.
Nelayan mulai berkembang mencari ikan dengan perahu motor sekitar tahun 1970. Awalnya mesin yang digunakan hanya mesin tempel, dengan kapasitas kecil, hingga saat ini berkembang menggunakan mesin dengan kapasitas besar yang mampu menjangkau hingga perairan di luar Jawa.
Tasman (55), mantan nakhoda kapal yang saat ini menjadi Bendahara HNSI Kota Tegal, menuturkan, nelayan mengalami kejayaan karena hasil tangkapan melimpah pada sekitar tahun 1990 hingga 1997. “Saat itu, nelayan mulai bisa membangun rumah,” ujarnya.
Namun saat ini, hasil tangkapan cenderung menurun. Jangka waktu melaut lebih lama karena jarak tempuh kapal untuk mendapatkan ikan lebih jauh. Meskipun demikian, dia mengakui, sektor perikanan tetap menjadi andalan dan menjadi denyut nadi bagi masyarakat pesisir Kota Tegal.
Jumlah nelayan memang tidak ada separuh dari jumlah penduduk di Kota Tegal, yang mencapai sekitar 240.000 orang. Namun, sektor kelautan dan perikanan tidak hanya memberikan penghidupan dari sisi perikanan tangkap.
Dari potensi kelautan dan perikanan di Kota Tegal, tumbuh industri-industri ikutan, seperti industri pengolahan ikan, yang hingga saat ini berkembang dalam berbagai jenis, seperti industri pengeringan ikan asin, industri fillet ikan (pemotongan daging ikan), pengasapan ikan, tepung ikan, bandeng presto, pemindangan ikan, bakso ikan, nugget ikan, empek-empek, terasi, kerupuk, abon ikan, hingga kerupuk kulit ikan.
Saat ini terdapat sedikitnya 200 industri pengolahan ikan di Kota Tegal. Selain industri pengolahan ikan, potensi laut yang dimiliki Tegal juga memunculkan banyak usaha lain, seperti tambak, perairan umum, dan kolam ikan.
Masih berdasarkan data Dinas Kelautan dan Pertanian Kota Tegal, pada 2014, luas tambak di Kota Tegal mencapai 543,58 hektar, dengan jumlah pemilik sekitar 566 orang. Tambak di Kota Tegal tersebar di tiga kecamatan, dari empat kecamatan yang ada di Kota Tegal, yaitu Kecamatan Tegal Barat, Margadana, dan Tegal Timur. Produksi tambak di Kota Tegal mencapai 1.238 ton dengan nilai Rp 1,002 miliar per tahun.
Industri pengolahan
Industri pengolahan ikan menjadi sektor ekonomi yang merambah hingga lingkungan rumah tangga. Hal itu karena selain dilakukan oleh pengusaha pengolahan ikan skala industri, usaha pengolahan ikan juga banyak dilakukan para ibu rumah tangga, termasuk istri-istri nelayan. Di Kota Tegal, banyak dijumpai ibu rumah tangga yang menjajakan makanan berbahan ikan, seperti pindang ikan, otak-otak, dan nugget ikan dari rumah ke rumah.
Kemunculan industri pengolahan ikan tersebut awalnya untuk menjawab tantangan akan melimpahnya hasil tangkapan ikan. “Dulu ikan banyak, masyarakat belum pandai, belum mengenal freezer, jadi harus mencari upaya agar ikan awet,” tutur Wahidin (55), pemilik usaha pengeringan ikan asin di Pelabuhan Tegalsari Kota Tegal, yang merupakan Pembina Kelompok Ikan Asin Cahaya Semesta Kota Tegal.
Industri pengolahan ikan sudah berkembang sejak tahun 1960-an. Metode pengolahan ikan yang paling awal digunakan adalah pengeringan ikan asin dan pindang ikan. Pengolahan ikan asin dipilih karena garam merupakan salah satu bahan pengawet alami yang mudah diperoleh.
Saat ini, jumlah pemilik usaha pengeringan ikan asin di Kota Tegal sekitar 97 orang, dengan rata-rata setiap orang memiliki 10 tenaga kerja. Rata-rata, volume produksi ikan asin dari semua perajin di Kota Tegal sekitar 700 ton per pekan.
Pemerintah Kota Tegal sendiri selama ini berusaha mengembangkan sektor perikanan melalui beberapa upaya. Wali Kota Tegal Siti Masitha Soeparno mengatakan, dukungan pemerintah antara lain diwujudkan dengan pengadaan Klinik Iptek Mina Bisnis (Kimbis). Melalui klinik tersebut, nelayan dan para istri nelayan diajarkan teknologi sehingga mereka tidak gagap teknologi. Selain itu, para istri nelayan juga dibekali kemampuan wirausaha sehingga mereka bisa ikut membantu mencari tambahan penghasilan untuk membantu suami mereka saat musim paceklik.
Tahun 2016, Pemerintah Kota Tegal juga merencanakan adanya kawasan industri perikanan di Pelabuhan Kota Tegal. Selain itu, pemerintah juga berupaya memanfaatkan potensi laut untuk wisata alam.
Saat ini, pengembangan wisata alam diarahkan pada wilayah Muarareja, yaitu kawasan nelayan kecil. Selain sebagai wisata alam, kawasan tersebut juga dikembangkan sebagai kawasan baru untuk kuliner ikan di Kota Tegal.

SD Plus Hang Tuah 1 Jakarta
Jl. Gorontalo III /24 Sungai Bambu Tanjung Priok - Jakarta 14330 INDONESIA
Telp : 021.4371028 / 021.4360514 Fax : 021.4371028
e-Mail : sdplusht1@yahoo.co.id