"Selamat Datang di Website SD Plus Hang Tuah 1 Jakarta"

Mengenal Replika Kapal Bersejarah di Museum Bahari

Berbagai tempat bersejarah terdapat di wilayah Jakarta Utara (Jakut). Seperti Museum Bahari yang berlokasi di Jalan Pasar Ikan, Kecamatan Penjaringan. Museum tersebut terletak tak jauh dari jalan raya. Tepatnya berada di dekat Menara Syahbandar dan juga Galangan VOC. Wisatawan yang datang selain menikmati berbagai koleksi kebaharian, juga untuk melihat gedung yang memiliki nilai sejarah tinggi bersejarah itu. Terlebih banyak menyimpan koleksi bersejarah seputar kebaharian. Keloksi dimaksud berupa replika kapal hingga sejarah singkat tentang pelabuhan di Jakarta. “Tidak hanya replika, ada juga kapal di Museum Bahari,” ujar Anggota Satuan Pelaksana unit Museum Kebaharian Jakarta M. Isa kepada indopos.co.id, beberapa waktu lalu. Museum Bahari berdiri di atas lahan seluas sekitar satu hektare. Dahulunya sebagai gedung milik VOC yang digunakan untuk menyimpan rempah-rempah.
“Saat zaman Belanda, Museum Bahari digunakan untuk gudang. Yakni untuk menyimpan rempah-rempah yang dibawa melalui Pelabuhan Sunda Kelapa. Di dekat sini, pelabuhannya Sunda Kelapa masih laut, kapal berlabuh di depan dekat Museum dulunya,” beber Isa. Adapun Pelabuhan Sunda Kelapa, kini dimiliki dan dikelola oleh Pelindo II. Jarak antara pelabuhan tersebut dengan Museum Bahari tidak terlalu jauh.
Pria yang pernah menjadi penyiar radio swasta itu menambahkan, di sekitar lokasi itu juga dibuatkan dermaga di Kali Opak atau Kali Besar. “Kanal besar dibuat gudang sisi barat dan sisi timur. Terdiri dari gudang rempah galangan VOC, yang sekarang jadi Museum Bahari. Dan juga galangan untuk gudang kayu. Di belakangnya dulunya juga ada gudang tekstil,” ungkap IsaKeberadaan Museum Bahari, sambung dia, tidak terlepas dari peran gubernur DKI Jakarta, saat itu. Yakni Ali Sadikin. Pada tahun 1967, pria yang akrab disapa Bang Ali itu membentuk Dinas Museum dan Sejarah. “Nah Dinas Museum ini bertugas melestarikan bangunan tua yang ada di Jakarta.
Agar bangunan yang ada itu bisa terpelihara. Bagaimana supaya bisa dimanfaatkan jadi museum. Salah satu bangunan bersejarah yang dijadikan museum adalah Museum Bahari,” kata Isa. Sebelum menjadi museum, bangunan itu sempat jadi gudang oleh PT Telkom, pasca M. Isa, kemerdekaan. Selain melestarikan bangunan bersejarah, Bang Ali juga membuat Museum Bahari. “Kemudian pada zaman Jepang, pernah digunakan untuk tempat perbekalan Perang Asia Timur Raya oleh Jepang,” tambah Isa.
Proses pembuatan Museum Bahari dimulai sejak tahun 1976. Atau tidak lama setelah diam bil alih oleh Dinas Museum. “Setelah dipersiapkan, pada tahun 1977, Museum Bahari diresmikan oleh Bang Ali, lalu pengelola an nya dipimpin Kapten Rahmat Ali,” beber Isa. Adapun koleksi kelautan di museum itu, sudah dipersiapkan sejak 1976. Jumlahnya sekitar seribuan koleksi. “Koleksinya sudah dipersiapkan. Ada kapal asli atau kapal yang pernah digunakan nelayan.
Juga ada replika kapal, seperti replika kapal Phinisi. Terus ada juga koleksi biota laut, seperti ikan, penyu dan kerang. Serta alat navigasi pelayaran. Alat penangkapan ikan tradisional, pancing. Terus dari angkatan laut, juga ikut bekerjasama. Memberikan Replika KRI Macan Tutul dan replica KRI Dewa Ruci,” beber Isa. Selain itu, di Museum Bahari juga terdapat foto-foto pahlawan perjuangan, serta tokoh-tokoh kebaharian.
“Seperti foto Pattimura, Sultan Hasanudin, Gajah Mada, Tengku Umar, Sultan Agung, Sultan Khaerun dari Ternate, Laksamana Malahayati dan sebagainya. Dalam sejarah Indonesia mereka adalah pahlawan,” tutur Isa. Adapun untuk berkunjung ke Museum Bahari, harga tiket perorangan dewasa sebesar Rp 5.000. Musium buka mulai pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. “Untuk rombongan lebih murah. Buka setiap Selasa-Minggu.

SD Plus Hang Tuah 1 Jakarta
Jl. Gorontalo III /24 Sungai Bambu Tanjung Priok - Jakarta 14330 INDONESIA
Telp : 021.4371028 / 021.4360514 Fax : 021.4371028
e-Mail : sdplusht1@yahoo.co.id