"Selamat Datang di Website SD Plus Hang Tuah 1 Jakarta"

BANDA NAIRA DALAM PRESPEKTIF SEJARAH MARITIM

Kilas Balik Ekspedisi Spice Islands

Mezak Wakim S.Pd BPSNT Ambon

Inspriasi menemukan dunia baru yang di identifikasi kemudian sebagai Maluku yang di petakan dalam ekspedisi para penjelajah dunia membuat kepulauan Maluku yang di sebut sebagai Spice Islands menjadi terpenting dalam jejaring perdaganagan internasional. Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao menjadi penentu ekspedisi yang dirancang oleh Frans Ferdinand dan Ratu Isabella untuk mencari dimana kepulauan remoah-rempah tersebut. Banda pada bulan November 1511 menjadi bahan perbincangan internasional ketika dari perjalanan yang panjang dengan dipandu nakoda melayu tibalah Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao di Kepulauan Banda Naira. Rekonstruksi sejarah perjalanan penjelajah dunia menjadi bagain terpenting dalam sejarah Maritim yang mengisahkan sebuah penemuan yang akan melahirkan pusat-pusat ekonom baru di Maluku

A. Interaksi Regional : Cikal Bakal Munculnya Perdagangan Internasional di Maluku.

Sumber sejarah cina kuna telah mengidentifikasi nama Maluku dalam berita Tionghoa yang diterjemahkan Grounevelt, bahwa nama Maluku pertama kali muncul dalam sejarah raja-raja Tang (618-906). Sumber itu memberikan penulusuran mendalam bahwa Bali terletak di sebelah timur Kaling dan disebelah barat dari Ma-li-ki. Nama Maliki diidetifikasikan sebagai Maluku. Catatan ini menjadi penting yang mengarahkan peranan Kepulauan Maluku dalam jejaring Internasional setidaknya sejak awal abad Masehi. Saat itu, cengkeh dan pala menjadi barang dagangan yang berharga karena amat dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain di luar Nusantara. Kutipan lain dari beberapa sumber sejarah cina kuno juga memberikan kesaksian keberadaan cengkeh di tempattempat yang jauh dari tanaman endemic Maluku . Seorang naturalis Romawi bernama Pliny the Elder yang tinggal di Alexsandria (Mesir) menuliskan tentang adanya rempah-rempah (cengkeh) yang dibawa pelaut pemberani dari timur dengan menggunakan perahu-perahu sederhana. Sementara itu, sumber sejarah Dinasti Han (abad 2 SM-2 M) juga menyebutkan jika para pejabat kerajaan hendak menghadap Kaisar, mereka harus mengunyah cengkeh sebagai penyedab bau mulut. Dalam sumber cina lainya juga cengkeh disebut sebagai Chi-She (awal) atau juga Ting-Hsiang (belakangan) yang dilukiskan bentuknya sebagai paku dan didatangkan dari Mo-Wu atau Maluku. Bukti-bukti sejarah ini membuktikan bahwa cengkeh telah diperdagangkan setidaknya sejak awal abad masehi. Perdagangan ini menjadi semakin marak ketika kerajaan besar seperti Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit terlibat dalam perdagangan Internasional terutama India dan China. Jejaring perdagangan yang melibatkan Maluku memuncak sekitar abad 16 tidak lama Inspriasi menemukan dunia baru yang di identifikasi kemudian sebagai Maluku yang di petakan dalam ekspedisi para penjelajah dunia membuat kepulauan Maluku yang di sebut sebagai Spice Islands menjadi terpenting dalam jejaring perdaganagan internasional. Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao menjadi penentu ekspedisi yang dirancang oleh Frans Ferdinand dan Ratu Isabella untuk mencari dimana kepulauan remoah-rempah tersebut. Banda pada bulan November 1511 menjadi bahan perbincangan internasional ketika dari perjalanan yang panjang dengan dipandu nakoda melayu tibalah Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao di Kepulauan Banda Naira. Rekonstruksi sejarah perjalanan penjelajah dunia menjadi bagain terpenting dalam sejarah Maritim yang mengisahkan sebuah penemuan yang akan melahirkan pusat-pusat ekonom baru di Maluku. 2 setelah orang-orang Eropa mulai menjelajahi lautan untuk mencari “emas hijau” ini tempat asalnya. Pada masa itu seakan semua mata tertuju ke Maluku yang mampu menjadi penggerak perdagangan Internasional.

B. Banda Naira Dalam Perspektif Sejarah Maritim

Maluku yang dalam konteks sejarah meliputi daerah yang kini disebut Provinsi Maluku dan Maluku Utara, wilayahnya membentang dari Utara hingga selatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua Provinsi ini dapat digolongkan sebagai provinsi kepulauan dengan luas wilayahnya ± 851.000 km2 . Dari luas wilayah tersebut ternyata wilayah lautnya mencapai seluas 765.272 km2 (90%) sedangkan wilayah daratannya hanya 85.728 km2 (10%). Pada masa lampau di wilayah wilayah itu tumbuh kerajaan-kerajaan besar yang unggul di sektor kelautan, seperti kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku Utara serta Banda dan Hitu di Maluku Selatan (Provinsi Maluku sekarang). Nasib dari kerajaan kerajaan di dua wilayah provinsi itu tidak bedanya dengan kerajaan kerajaan lainnya di Nusantara. Orientasi ke dunia maritim semakin surut bersamaan dengan hadirnya Portugis, Belanda dan Inggris dengan armada-armada besar yang mampu melintasi pesisir benua dan samudera, untuk kemudian melakukan tindakan monopoli pelayaran diperairan Nusantara. Kendati demikian sisa-sisa dunia kebaharian masyarakat Maluku masa lampau itu masih dapat kita temukan di wilayah-wilayah pesisir di kedua propinsi tersebut. Walaupun harus diakui, bahwa dewasa ini kelompok masyarakat itu tidak dapat digolongkan lagi sebagai masyarakat bahari, karena orientasi ke darat sudah lebih kuat dari orientasi ke laut. Salah satu dari masyarakat bahari masa lampau itu dapat kita temukan sisa- sisanya di wilayah Kecamatan Banda Maluku tengah. Kecamatan Banda yang terdiri dari 11 buah pulau kecil itu dapat digolongkan sebagai kecamatan kepulauan. Luas wilayah Kecamatan Banda seluruhnya adalah 2.568 km2 yang terdiri atas luas wilayah daratan 180,59 km2 (7,5%) dan luas wilayah lautannya mencapai 2.387,51 km2 (82,5%). Pengertian luas lautan yang dimaksudkan hanya terbatas pada perairan laut sekitar kepulauan Banda. Sedangkan luas Laut Banda keseluruhan yang berada dalam lingkup wilayah provinsi Maluku adalah ± 470.000 km2 . Sebagai daerah produsan buah pala, Kepulauan Banda sudah terkenal di dunia internasional sejak sebelum abad ke 15. Kontak awal terjadi dengan bangsa-bangsa Asia, seperti para pelaut dan pedagang Melayu, India, Cina dan Arab. Orang orang Banda selain menjual pala dan fulinya, juga ikut serta dalam pelayaran perdagangan itu sampai ke Malaka, tempat dimana berkumpul berbagai armada dagang. Tome Pires dalam Suma Orientalnya menyebutkan salah satu kelompok pedagang yang ada di Malaka ketika itu adalah Maluku dan Banda 1). Orang-orang Banda selain ikut serta dalam pelayaran niaga, juga memiliki armada dagang sendiri yang mengangkut hasil-hasil bumi dari pulau-pulau lain ke Banda 2). Informasi historis tersebut diatas, memberi gambaran bahwa daerah kepulauan Banda selain berfungsi sebagai produsen tunggal buah pala, juga masyarakatnya memiliki armada dagang. Dengan kata lain mereka memiliki sarana angkutan laut (Jungjung) yang mampu mengangkut barang dari pulau pulau lain ke Kepulauan Banda. Dari latar historis juga diketahui bahwa orang Banda memiliki armada perang laut yang dikenal dengan istilah “Korakora” atau Belang 3). Kora- kora / belang terbagi atas dua jenis yakni jenis yang digunakan untuk berperang dan jenis yang digunakan untuk melayani perjalanan Raja.

Untuk ini lihat ; Sartono Kartodirdjo; Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500 1900: Dari Emporium Sampai Imperium, Jilid I, Gramedia, Jakarta, 1993: h.11. 2 H. Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Pradnja Paramita, Jakarta, 1962, h. 52. untuk ini lihat ; Willard A. Hanna ; Colonialism And Aftermath In The Nut meg islands, ISHI, copyright, Philadhelpia, 1978

C. Banda Naira ; Inspirasi Penjelajah Dunia 

Walaupun dalam konteks geopolitik dewasa ini, Kepulauan Banda tidak mempunyai peranan yang berarti, namun pada masa awal eksplorasi dan kolonisasi bangsa-bangsa Eropa atas benua Asia, Afrika dan dunia baru lainnya, terbukti kepulauan Banda yang kecil dan terpencil ini sangat besar peranannya. Sebagai produsen tunggal buah pala saat itu, kepulauan yang kecil ini berhasil menarik para pedagang asal Cina, Asia Selatan dan Timur Tengah sekurang kurangnya 2000. tahun yang lalu 4).

Buah pala asal Banda Neira telah di kenal di Eropa sejak zaman Romawi dan di Timur Tengah sejak zaman Firaun, melalui sebuah jaringan perdagangan laut (pesisir) yang sangat panjang, penuh risiko dan sangat dirahasiakan. Kegiatan penjelajahan dunia oleh bangsa-bangsa Eropa terutama oleh Portugis dan Spanyol sesungguhnya tidak dilatar belakangi oleh suatu upaya untuk membuktikan bahwa dunia itu bulat, atau untuk menebar missi suci mereka, tetapi lebih termotivasi oleh hasrat untuk menemukan kekayaan yakni buah pala dari Banda dan Cengkih dari Maluku Utara.

Upaya untuk menemukan kepulauan penghasil buah pala dan cengkih itulah yang mendorong Raja Spanyol memerintahkan Columbus melakukan penjelajahan laut melalui arah Barat. Walaupun Ia beserta armada yang dipimpinnya tidak menemukan kepulauan, Maluku (Banda Neira dan Ternate), namun mereka berhasil mendaratkan armadanya di benua baru yang kemudian dikenal sebagai Amerika. Columbus sendiri tidak menyadari sampai masa kematiannya, bahwa dia dan armada lautnya yang menemukan benua Amerika. Sebaliknya yang mereka tahu, bahwa mereka telah tiba di anak benua India. Itulah sebabnya hingga kini suku-suku asli di benua Amerika seperti Astek dan Inca disebut sebagai suku bangsa Indian. Columbus keliru dalam pelayarannya menemukan Maluku, tetapi kekeliruan Columbus itu menjadi rachmat bagi bangsa- bangsa Eropa dikemudian hari. Karena benua baru (daratan Amerika) yang ditemukan itu menjadi daerah eksploitasi yang luar biasa oleh bangsa-bangsa Eropa, hingga terbentuknya negara baru Amerika Serikat.

Menjelang abad ke-16, buah pala yang menjadi basil utama Kepulauan Banda merupakan komuditi dunia yang dibutuhkan masyarakat Eropa. Mereka sejak lama berupaya menemukan kepulauan yang menghasilkan pala itu, namun ekspedisi mereka selalu gagal. Vasco da Gama dalam pelayaran rnengitari Tanjung Harapan di benua Afrika, sasarannya adalah mencari daerah penghasil buah pala itu, namun selalu berakhir dengan kegagalan.

Penjelajah Portugis, Laksamana Alfonso de Albuquerque berangkat dari Negerinya. Setibanya di Mozambique, Alfonso de Albuquerque yang berupaya menemukan kepulauan rempah-rempah itu, mengirimkan laporan kepada Raja Portugal, bahwa Ia mendapat informasi ada orang Mozambique yang bersedia menjadi pemandu bagi mereka ke Malaka di Tenggara Asia. Inilah yang mendorong Albuquerque bertolak ke Asia, dan pada tahun 1511 berhasil menaklukan Malaka yang menjadi pusat rute perdagangan laut di Asia. Ketika itu pelaut dan pedagang Banda Neira juga telah memiliki pemukiman di Malaka 5).

Setelah menduduki Malaka lebih kurang tiga bulan, pada November 1511 Albuquerque mengirimkan dua kapal layarnya untuk menemukan kepulauan Banda yang kaya akan buah pala itu. Kedua kapal yang masing-masing dipimpin oleh de Abreu dare Francisco Serrau dalam pelayaran ke Banda Neira dipandu oleh seorang nakhoda Melayu bernama Ismail. Mereka belayar selama dua bulan lebih disaat angin Barat bertiup dengan kencangnya. Pelayaran yang mengagumkan itu ditulis oleh Francisco Serrau dalam buku harian kapalnya sebagai berikut ;

“Kami berlayar dari Malaka pada 11 November 1511 pada musim bertiupnya angin Barat Sewaktu meninggalkan Malaka kami tidak banyak membawa bekal, karena perang dengan Sultan Melayu masih berlangsung. Ternyata dalam pelayaran dua bulan lebih itu bekal yang kami bawa habis. Untuk mempertahankan hidup terpaksa segala yang ada di kapal dijadikan makanan, termasuk kecoa, tikus kapal dan keju busuk. Setelah dua bulan berlayar, pada pertengahan januari 1512, tibalah kami di kepulauan Banda Neira yang begitu indah. Begitu banyak petualang Barat berupaya menemukan kepulauan yang bagaikan surga di dunia ini, yang kaya dengan pala, namun kami yang berjasa sukses menemukannya. Alangkah terperanjatnya kami ketika mengetahui bahwa orang Moro 6 ) yang begitu lama berperang dengan kami di negeri kami sendiri telah tiba di kepulauan itu 100 tahun lebih dulu dari kami 7 ).

Rombongan pertama orang-orang Portugis itu berada di Banda Neira sekitar satu bulan, membeli dan memuat kapal-kapal mereka dengan pala, fuli dan cengkih. Banda tidak menghasilkan cengkih, tetapi orang-orang Banda membeli cengkih dari Ternate dan menjualnya kepada para pedagang yang berkunjung ke Banda Neira. Penjelajah Portugis membeli semua hasil bumi itu dengan harga yang sangat murah, yang bila dijual langsung ke Eropa keuntungannya bisa mencapai 1000 prosen. Sebelumnya pala dibeli oleh pedagang-pedagang Cina, Arab dan Melayu untuk kemudian dikapalkan kembali ke teluk Persia. Dari teluk Persia barang-barang yang mahal ini diangkut oleh kafilah-kafilah ke kawasan laut tengah dan disebar melalui Konstantinopel (istambul), Genoa dan Venesia. Setiap kali rempah-rempah itu diperjual belikan dari satu pedagang perantara ke pedagang perantara lainnya harganya meningkat 100 prosen. Melalui karavan daratan Cina, sejarah membuktikan bahwa kapal-kapal laut Cina sudah berada di Banda Neira ± 600 tahun sebelum Portugis tiba. Dengan kata lain pada permulaan abad ke 10 orang- orang Cina, Arab dan Melayu sudah berdagang di Banda.

Walaupun berada di kepulauan Banda selama 87 tahun, namun sejarah Banda pada masa berdomisilinya penjelajah laut bangsa Potugis itu tidak banyak yang ditemukan. Ini karena Portugis tidak menjadikan Banda Neira sebagai pusat aktivitas mereka di Maluku. Walaupun mereka sempat membuat sebuah benteng disana, namun tidak dapat melanjutkannya hingga selesai.

Sejarah rinci tentang kepulauan Banda dan penduduknya tercatat sejak 1599 ketika para pelaut Belanda tiba disana, yang disusul kemudian oleh pelaut pelaut Inggris pada tahun 1602. Penjelajah laut Belanda yang tiba di kepulauan Banda pada 1599 itu adalah Laksamana Madya Jacob van Heemskerk bersama 200 pedagang, pelaut dan serdadu. Mereka datang dengan dua kapal layar yakni Gelderland dan Zeeland. Kapal layar Gelderland melego jangkar di pantai Orantatta, sebuah kota kecil di pulau Banda Besar, pada hari Senin 15 Maret 1599, disusul kemudian kapal layar Zeeland pada tanggal 16 Maret. Kedua kapal layar yang dipimpin Heemskerk ini merupakan bagian dari delapan kapal layar dibawah komando Laksamana Jacob van Neck, yang melaksanakan ekspedisi kedua ke Hindia Timur (1598-1599) dengan biaya dari Compagnie van Verre, sebuah Compagnie yang mendahului VOC yang tersohor dengan keganasannya itu.

Pada tahun 1602 armada laut Inggris berhasil mencapai Kepulauan Banda dan membuka pos perdagangannya di pulau Run. Ekspedisi Inggris yang tiba di kepulauan Banda ini merupakan realisasi dari rencana Honoureble East India Company (Gentlemen Adventurers Company Limited) yang mendapat restu dari Ratu Elisabeth I untuk melakukan pelayaran ke daerah Maluku, tempat dimana Belanda dan Portugis telah menjelajahinya lebih dulu. 

Ekspedisi Inggris yang pertama datang ke Indonesia terdiri dari tujuh kapal layar dibawah pimpinan kapten James Lancester. Mereka membuka pos pos perdagangan antara lain di Banten, Ternate dan pulau Run, yakni salah satu pulau dalam gugusan kepulauan Banda. Ketika Belanda berhasil menaklukan pulau Ai tetangga pulau Run pada 1615, Penguasa Pulau Run menyerahkan secara resmi kekuasaan atas pulau tersebut kepada Inggris pada Desember 1616 8). Atas dasar itu, Inggris kemudian membangun benteng pertahanan di Naizeelaka dan sebelah Utara pulau Run. Fakta inilah yang membuat Ratu Elisabeth I, menyatakan bahwa United Kingdom (Kerajaan Inggris) wilayahnya terdiri dari England, Wales, Skotlandia, Irlandia dan Pulau Run. Belanda dengan VOCnya tidak membiarkan Inggris menguasai Pulau Run.

Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan, baik melalui peperangan maupun lewat perjanjian damai. Pada tahun 1621 J.P.Coen Gubernur Jenderal yang terkenal dengan kekejamannya itu menaklukan rakyat Banda termasuk pulau Run yang dijaga ketat, oleh Inggris. Tiga tahun kemudian Inggris berhasil mengambil alih pulau Run dari kekuasaan Belanda dan berdagang di pulau itu sampai dengan tahun 1667. Namun berdasarkan pejanjian Breda tahun 1667 antara Inggris dengan Belanda, dimana pulau Run diserahkan kepada Belanda dan sebuah pulau jajahan Belanda di pantai Timur Amerika yaitu Nieuw Amsterdam (sekarang Manhattan-New York) diseratikan kepada Inggris. Perjanjian yang tidak diketahui oleh pribumi pulau Run di Banda Neira mapun pribumi Manhattan di pantai Timur Amerika, namun sungguh sejarah telah mencatat bahwa nilai pulau Run sama dengan nilai Manhattan pada abad ke-17. Sejak saat itu sampai dengan tahun 1942 kepulauan Banda sepenuhnya berada dalam kekuasaan Belanda.

D. Orang Banda Dalam Konsep Pelayaran Niaga 

Pala dengan fullinya (bunga pala) merupakan komuditi yang sangat dibutuhkan di pasar internasional, terutama di Eropa dan China. Akan tetapi untuk sampai ke daerah konsumen itu dibutuhkan sebuah jaringan pelayaran niaga antar pulau yang cukup panjang, disamping risiko laut yang harus dihadapi oleh para pedagang. Risiko laut yang dihadapi antara lain seperti gelombang besar yang berakibat perahu tenggelam atau terdampar, juga perompakan di laut oleh kelompok kelompok bajak laut 9). Jaringan pelayaran niaga yang panjang dengan banyak pedagang perantara serta risiko risiko laut yang dihadapi oleh para pedagang itu merupakan dua faktor yang menyebabkan perbedaan harga pala yang begitu mencolok antara daerah produsen (Banda) dengan daerah konsumen (Eropa).

Kepulauan Banda menjadi penting dalam percaturan niaga regional maupun internasional, karena buah pala yang menjadi komoditi yang sangat mahal dan dibutuhkan ketika itu hanya terdapat di Kepulauan Banda. Dalam konteks itu orang-orang Banda tidak saja bertindak sebagai petani produsen, tetapi juga terlibat dalam jasa pengangkutan cengkih dari Ternate. Cengkih dibawah dari Ternate ke Banda Neira untuk kemudian dijual kepada pedagang disana. Orang- orang Banda selain menjual pala kepada para pedagang pembeli, juga membawa sendiri pala ke pelabuhan-pelabuhan dagang seperti Gresik, Banten, Jepara dan Malaka. Pada awal abad ke-17 Gresik dan Giri di Jawa Timur membangun hubungan dagang yang bersifat interdependensi dengan orang Maluku. Tercatat bahwa pada tahun 1615 harga beras di Jawa rata -rata hanya 9-10 real per koyang (2 ton). Sedangkan di Maluku harganya bisa mencapai 50-60 real per satu ton. Itulah sebabnya Gresik menyiapkan pelabuhan bagi kapal kapal berukuran 40-100 ton untuk berlayar ke Maluku pulang pergi. Mereka menjual beras kepada orang-orang Maluku terutama Banda, Ambon (Hitu) dan Ternate, kemudian membeli gala dan cengkih dari Maluku. Disini terjadi interdependensi hidup antara orang Maluku dengan orang Jawa. Laporan laporan Belanda mencatat pada masa itu sejumlah 60 kapal besar dan kecil tiba di Gresik setiap tahun dengan muatan rempah rempah dari Maluku. Dari sumber lain diketahui bahwa paling banyak 7 Jung besar mengangkut pala setiap musim dari Banda ke pulau Jawa, selebihnya diangkut oleh kapal kapal berukuran kecil. Pada umumnya kapal-kapal Banda sendiri yang mengangkut rempah rempah itu ke Gresik, dan seterusnya diangkut dengan kapal-kapal lain ke Malaka, Sumatera, Kalimantan, Patani sampai ke Siam 10). Akan tetapi. Kapal-kapal Banda selain mengunjungi Gresik, Jepara dan Banten juga berlayar sampai ke Malaka. Tome Pires menyebut diantara pengunjung kota Malaka terdapat orang Banda. Selain itu disebut pula bahwa diantara 4 orang syahbandar di kota Malaka, ada seorang yang khusus melayani pedagang dari Jawa, Maluku, Banda, Palembang dan sebagainya. Dari sini dapat diambil kesimpulan, bahwa setidak tidaknya I sejak permulaan abad ke 16 orang-orang Banda sudah memiliki pemukiman di Malaka dan memiliki armada dagang yang mampu berlayar sampai ke Malaka.

Armada pelayaran niaga Banda, menurut Tome Pires dinilai tidak terlalu baik jika dibandingkan dengan kapal-kapal Jawa. Kapal-kapal Banda hanya mempunyai jangkar kayu dengan pemberat batu dan awak kapal terdiri dari budak belian yang cepat-cepat meninggalkan kapalnya jika ada bahaya kecil sekalipun. Oleh karena itu perjalanan mereka menghabiskan waktu yang lama dan banyak diantara kapal kapalnya yang tenggelam 11). Pelayaran dari Malaka ke Maluku biasanya melewati pantai Timur Sumatera dan menyusuri pantai Utara Jawa (Banten, Jepara dan Gresik). Kemudian kapal-kapal tersebut berlayar melalui Bali, Lombok dan Nusa Tenggara terus ke Maluku. Itulah sebabnya pelabuhan-pelabuhan di pantai Utara Jawa, seperti Banten, Jepara dan Gresik tumbuh dengan sangat pesatnya.

Sejak dulu Banda sudah menjadi pusat perdagangan di perairan Maluku Tengah. Pedagang pedagang luar daerah tertarik untuk datang dan berdagang di kepulauan Banda, karena di sini mereka dapat bertransaksi dagang cengkih dan pala yang sangat dibutuhkan di pasar Eropa ketika itu. Sebagaimana diketahui, Banda hanya memproduksi pala dan tidak menghasilkan cengkih, tetapi kapal-kapal Banda sendiri turut serta dalam pengangkutan hasil-hasil dari pulau-pulau lain ke Banda 12). Tome Pires mencatat bahwa Kepulauan Banda dapat menjamin muatan 500 bahar fulli (bunga pala) dan 6000-7000 bahan biji pala setahun. Walaupun angka angka ini dianggap tinggi, namun tidak ada data lain yang dapat dijadikan pembanding. Sumber Belanda abad ke-16 (dari eyer Cornelisz, akhir abad ke-16) memberi angka yang sama. Menurutnya para pedagang asing lebih suka membeli bunga pala dari pada biji pala. Oleh sebab itu orang Banda mengeluarkan peraturan, bahwa bunga pala hanya dapat diperoleh apabila dibeli bersama dengan biji pala, dengan perbandingan 7 bahar biji pala untuk 1 bahar bunga pala. Nilai cengkih pun menurun jika dibanding dengan bunga pala. Pada tahun 1600 nilainya masih sama, tetapi pada tahun 1603 perbandingan nilai antara cengih dengan bunga pala adalah 7 : 10 yakni 7 bahar bunga pala sebanding dengan 10 bahar cengkih. jika pelayaran orang-orang Banda dari Malaka ke Maluku (Banda) melalui pesisir Timur Sumatera kemudian ke pantai Utara jawa dan seterusnya ke Bali-Lombok-Nusa Tenggara Maluku Tenggara dan masuk ke Banda, maka Portugis atas saran Tome Pires menggunakan jalur lain yakni dari Malaka menuju Kalimantan Selatan kemudian menyeberang ke Sulawesi Selatan (Makassar) dan terns berlayar ke Maluku. Jalur pelayaran Portugis ini mendorong tumbuhnya pelabuhan Makassar menjadi sebuah emporium 13) di Timur Indonesia. Karena sesudah Portugis

10.A.B. Lapian ; .Sejarah Pelayaran Niaga di Indonesia, Yayasan Pusat Studi Pelayaran Niaga Indonesia (Puspindo), Jakarta, 1990, h. 43 . 11 . Tome Pires Dalam A.B. Lapian, Ibid, h.44. 12 D.H. Burger; Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, (Disadur oleh Prajudi Atmosudirdjo), Jilid 1, J.B. Wolters, Djakarta, 1957 ; h. 59. 13 ). Emporium adalah kota pelabuhan tempat berlangsungnya aktivitas perdagangan internasional yang menyediakan aneka fasilitas pendukung seperd pergudangan, fasilitas kredit, pasar, penginapan, dok untuk memperbaiki kapal kapal yang rusak dan sebagainya. Biasanya dari Emporium itulah penguasa dan atau penjajah melakukan ekspansi politik dan ekonomi yang kemudian membentuk sebuah Imperium. Untuk int lihat ; K.N. Chaudhuri, 1985: Trade And Civilisation In The Indian Ocean: An Economic History from the Rise of Islam to


7 orang-orang Belanda dan Inggris juga meliwati jalur pelayaran yang sama, bahkan kemudian diikuti oleh pelaut-pelaut Nusantara lainnya. Seperti diketahui pelaut bangsa Asing pertama yang sampai ke Banda adalah dua buah kapal Portugis yang dipimpin oleh Antonio de Abreu dan Francisco Serrau. Setelah membeli pala dalam jumlah yang besar, mereka kemudian meninggalkan Banda Neira. Dalam buku harian kapal, Francisco Serrau mengisahkan bahwa ; “Dalam pelayaran kapal yang sarat dengan muatan pala kembali dari Banda, Nahkoda Ismail yang kami bawah dari Malaka mengarahkan pelayaran kami ke pulau Licipara di Kepulauan Penyu. Di Lucipara ini kami mengalami musibah, karena kapal kami kandas. Komi benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi pada saat itu, Nahkoda Ismail Dan anak buah kapal yang kami bawah dari Banda menyarankan agar kami menunggu. Biasanya disekitar pulau tersebut selalu beroperasi bajak laut dari Makassar dan Bugis. Kenyataannya memang demikian. Tak lama setelah mereka mengatakan itu sebuah kapal bajak laut kelihatan akan menyerang kami. Kami menunggu dan membiarkan mereka datang lebih dekat Begitu mereka mendekat kami melepaskan tembakan dan menaklukan mereka. Bajak laut sangat kaget dengan bunyi senapan yang baru pertama kali digunakan. Setelah mereka menyerah kapal mereka kami rampas dan muatan pala yang diangkut dari Banda di pidahkan ke kapal yang dirampas itu. Atas saran dari anak buah kapal dari Banda akhirnya kami menuju Hitu di pulau Ambon. Tampaknya beberapa hari sebelum kami tiba di Hitu, Sultan Rolief dari Ternate telah mengirim Pangeran Fuliba (saudara kandung) dengan sembilan korakora untuk menjemput kami. Sultan Ternate ternyata telah mendengar kedatangan orang kulit putih yang belum pernah dilihat dan mau mengetahui sebagai pemakal cengkih dan pala di negerinya 14). Tampaknya kesengsaraan Fancisco Serrau dan anak buahnya selama pelayaran dari negerinya ke Kepulauan Banda memperoleh keuntungan yang besar di darat. Namun bukan Banda atau Hitu yang dipilih menjadi pangkalan operasi untuk masa-masa mendatang, tetapi Ternate di Maluku Utara. Untuk mendapatkan pala dari Banda, Portugis membeli dari para pedagang regional. Kepulauan Banda tetap terbuka untuk berbagai bangsa yang datang mengaduh nasib mencari keuntungan. Pada tahun 1599 pelaut dan pedagang Belanda tiba di Kepulauan Banda. Menyusul kemudian para pelaut Inggris yang tiba pada tahun 1601. Pelaut Belanda yang datang dengan dua buah kapal yakni Gelderland dan Zeeland berlabuh di lepas pantai Orantata, sebuah kota kecil di Pulau Banda Besar pada Maret 1599. Berbagai persyaratan ditawarkan oleh para Orang Kaya dan Syahbandar, jika Belanda ingin membeli pala dari rakyat Banda. Jacob van Heemskerk yang memimpin armada dagang Belanda menyatakan persetujuan atas syarat-syarat yang diajukan yakni secara berkala harus memberikan hadiah berupa cermin, pisau, gelas kristal, beludru merah dan meriam kecil dan bahan mesiunya kepada Orang Kaya dan membayar upeti kepada Syahbandar (penguasa pelabuhan). Heemskerk kemudian membuka dua buah pos dagang (loji) dan menugaskan kepada para pedagang yang ikut serta dengannya untuk mengelola dan memulai tawar menawar untuk pembelian pala, bunga pala dan cengkih, baik dari orang-orang Banda maupun pedagang regional yang berada di Banda Neira. Dalam percaturan niaga di Banda Neira, orang-orang Banda menganut prinsip perdagangan bebas. Mereka bebas menjual kepada pedagang mana saja yang berani membeli dengan harga tinggi. Demikian pula pelayaran pengangkutan cengkih dan pala. Sementara Belanda menghendaki prinsip monopoli pembelian dan pengangkutan. Perbedaan prinsip inilah yang menimbulkan konflik, tidak saja antara Orang Banda dengan Belanda tetapi juga antara Belanda dengan pedagang-pedagang regional, seperti jawa, Bugis dan Makassar. Dibandingkan dengan para pedagang Portugis dan Asia lainnya yang secara tetap berdagang dengan orang Banda, haruslah diakui bahwa Inggris terutama Belanda memang berupaya mati-matian untuk 1750. Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500 1900 : Dori Emporium Sampal Imperium. Lihat juga RZ. Lairissa, 1995 ; Emporium Banten : Suatu Kajion Historiografi (Makalah) dalam simposium internasional tentang Kedudukan dan Peranan Bandar Banten Dalam Perdagangan Internasional. 14 Catatan Harian Francisco Serrau, dalam Des Alwi, Sejarah Maluku : Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon, Gramedia, Jakarta, 2005 h.28 29. 8 menguasai kepulauan tersebut. Saling ancam sangat sering terjadi antara kedua pendatang Eropa itu. Namun Belanda yang secara terus menerus memperkuat armada perangnya berhasil menaklukan kepulauan yang kaya akan buah pala itu pada tahun 1621. Penduduknya sebagian diasingkan ke Batavia 1515) dan sebagian besar lainnya melarikan diri ke pulau Seram, ke pulau pulau antara Seram bagian Timur, sampai ke pulau Kei Besar di Maluku Tenggara. Namun sebagian kecil penduduknya tetap bertahan di Kepulauan Banda dan tunduk kepada kekuasaan Belanda. Mereka inilah yang melanjutkan tradisi masyarakat Banda baik sebagai petani pala maupun sebagai pelaut pelaut yang tangguh. Kepulauan Banda dengan penduduk yang sangat minim itu, kemudian oleh Belanda (VOC) didatangkan penghuni penghuni baru dari jawa, Bali, dan beberapa daerah lain di Nusantara. Kepulauan yang kaya akan buah pala itu, oleh VOC kemudian di bagi-bagikan menjadi 68 persil atau yang disebut “Perken” (perkebunan) yang masing-masing persil berukuran antara 12-30 Ha. Kepada setiap pemilik perkebunan (perk) oleh VOC disediakan 25 orang budak 16). Kejatuhan Banda tidak berarti musnah pula tradisi orang Banda sebagai pelaut yang tangguh, sebab beberapa sumber menyatakan bahwa orang-orang Banda yang mengungsi ke pulau Kei Besar (Banda Eli) sering melakukan pelayaran ke kepulauan Banda untuk menjual atau menukar beberapa peralatan masak dari tembikar kepada penduduk di Banda Neira. Bahkan diantara mereka ada yang menetap di Banda sebagai orang-orang bebas. Mereka inilah bersama pribumi Banda yang berstatus budak yang melanjutkan tradisi maritim di kepulauan Banda hingga saat ini. Namun harus diakui, bahwa tradisi kemaritiman itu bukan lagi sebagai pelaut-pelaut yang melayari samudera,. namun sebagai nelayan-nelayan yang sangat cekatan dan trampil dalam menangkap ikan. 

Penutup

Kepulauan Banda telah tercatat dalam buku Nagarakertagama sebagai kepulauan yang terpenting dalam perdagangan internasional, pada Abad 15 Karena merupakan penghasil renpah-rempah pala dan fuli. Incaran kepulauan Banda dilakukan oleh berbagai bangsa dengan berbagai cara. Sebut saja ekspedisi Cristopher Colombus yang di biayai ratu Issebela dan raja Spanyol untuk mencari kepulauan ini tapi pada akhirnya hanya menemukan kepulauan Carbian-West Indies yang justru Colombus terkenal dengan teori Bumi Bulat dan hanya menemukan dunia baru (daratan Amerika). Ekspedisi kedua dilakukan oleh Vasco da Gama yang sebetulnya berlayar telah menuju Banda Naira dengan megintari tanjung harapan tetapi gagal menemukan kepulauan Banda. Dan atas bantuan seorang nahkoda Melayu bernama Ismail memandu kapal Portugis yang di pimpin Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao menemukan kepulauan Banda pada bulan November 1511. Selain itu juga Banda Naira telah tercatat dalam sebuah peristiwa sejarah terbesar pada tahun 1667 atas prseteruan Belanda dan Inggris. Perjanjian Bereda menjadi alternativ penyelesaian di mana kepemilikian atas pulau Run penghasil rempah-rempah Belanda menukanya dengan New Amsterdam atau nama indiannya Manhattan(sekarang New York). 

15 )Batavia atau Jayakarta merupakan salah satu Bandar niaga yang sangat ramai di pulau jawa. Belanda berhasil menaklukannya pada tahun 1619. Itulah sebabnya ketika mereka berhasil menaklukan Banda Neira pada 1621, penduduknya diasingkan ke Batavia agar mudah dikontrol. 16 Yang dijadikan budak oleh VOC adalah pribumi Banda yang tidak mau menjadi penganut agama Kristen. jika VOC membagi kepulauan Banda dalam 68 Persil lahan perkebunan, dan setiap persil memperoleh 25 orang budak, maka diperkirakan sekurang kurangnya, ada 1700 orang Banda yang masih menetap di Kepulauan Banda walaupun berstatus sebagai budak. 9 Rekonstruksi sejarah masa lalu Maluku termasuk kepulauan Banda menjadi sangat penting guna menambah dan melengkapi pengetahuan masyarakat tentang Maluku dan Banda yang melengkapi sejarah Maritim.

Acuan Ch.D. Ponto et al, 1997 ; Sejarah Pelayaran Niaga Di Indonesia, Jilid I, Yayasan Pusat Studi Pelayaran Niaga Indonesia, Jakarta. Des Alwi, 2005 ; Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore dan Ambon, Gramedia, Jakarta. Kartodirdjo Sartono et al, 1987 ; Pengantar Sejarah Indonesia Baru (1500-1900) Dari Emporium ke Imperium, Gramedia, Jakarta. Leirissa, R.Z., 1995 ; Emporium Banten : Suatu Kajian Historiografi, Makalah, Puslitakernas, Pemda Serang. ------------------, 1997 ; Ternate Dalam jalur Sutra, Makalah, Membangun Kembali Peradaban Bahari, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta. Lapian A.B, 1992 ; Sejarah Nusantara Sejarah Bahari : Pidato Pengukuhan Guru Besar Luar Biasa, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta. -----------------, 1997 ; Dunia Maritim Asia Tenggara, Artikel, Dalam Sejarah Indonesia Penilaian Kembali Karya Utama Sejarawan Asing, PPKB Lemlit Universitas Indonesia, Jakarta.



SD Plus Hang Tuah 1 Jakarta
Jl. Gorontalo III /24 Sungai Bambu Tanjung Priok - Jakarta 14330 INDONESIA
Telp : 021.4371028 / 021.4360514 Fax : 021.4371028
e-Mail : sdplusht1@yahoo.co.id