"Selamat Datang di Website SD Plus Hang Tuah 1 Jakarta"

Kuliner Laut dalam Sepiring Sejarah Nusantara


Dari ilustrasi tersebut, apakah terlintas tanya di kepala Anda. Kenapa kata “ikan” menjadi sinonim dari lauk pauk?
Kenapa kenangan kolektif mereka mengutarakan bahwa kata “ikan” dalam konteks dialog itu merujuk pada semua jenis lauk pauk, sepeti ayam, daging, telur, tahu, tempe, dan lainnya?

Bahkan, Van Deventer (seorang tokoh aliran etis masa kolonial) pun pernah mengatakan pada 1904: Bahwa menu utama orang Jawa adalah nasi dan ikan, yang lain hanya tambahan. Dari itu, mestilah Kita bertanya, mengapa kata ”ikan” dalam khazanah bahasa orang Jawa telah meluas artinya. Untuk mencoba menjawab itu, marilah beranjak ke suatu masa pada waktu silam, dimana laut tempat ikan berhabitat alami, banyak menghantarkan gelombang - gelombang sejarah : Masa kejayaan maritim Nusantara

Dalam sejarah, geo - Nusantara tercatat selama berabad - abad berjaya dalam dunia perairan. Kenapa demikian, banyak faktor pendukungnya, seperti: letak strategis, hamparan laut sangat luas, budaya maritim berkembang dinamis, hasil alam melimpah, dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut menjadi sebab bagi berkembangnya tradisi kuliner laut Nusantara. Ini terbukti dari jenis sajian makanan lautnya yang diramu/dimasak dengan beberapa jurus memasak: dibakar, diasap, digoreng, direbus, atau diasam. Hingga kini, tradisi kuliner laut warisan leluhur masih bisa kita nikmati, walaupun dengan beberapa perbedaan cara masak, racikan bumbu, dan penyajiannya. Kekayaan kuliner tersebut membuktikan betapa berartinya laut bagi kehidupan nenek moyang kita pada masa lampau. Laut bagai sumber kehidupan (makanan) sekaligus menjadi perekat pulau - pulau yang menyambung antar kehidupan (kegiatan niaga atau barter hasil alam). Apabila kita melangkah lebih jauh ke masa lampau. Jauh berabad - abad sebelum Masehi, kita pun akan menemui tradisi kuliner kuno. Dalam kurun prasejarah, nenek moyang tanah air Kita yang hidup di tepi sungai, rawa, atau tepi pantai sangat akrab dengan kekayaan alam sekitarnya, salah satunya kerang. Ini dibuktikan dengan penemuan dan penelitian arkeologi yang menjelaskan bahwa di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi terdapat Kyoken Moddinger berton - ton (beras dan lada) dan kapal - kapal bervolume perdagangan kecil, namun membawa barang-barang mahal nan mewah (emas, perak, mutiara) serta rempah - rempah bernilai tinggi (pala, cengkeh, kayu - kayu wangi). Di antara komoditi dagang tersebut, ada pula perdagangan pangan hasil laut, seperti sirip ikan hiu, ikan paus, tripang, dan lainnya. Khusus yang terakhir, tripang, merupakan komoditi yang laku keras di perairan Indonesia Timur. Tripang, Beche-de-mer (sebutan pedagang Portugis yang berarti ular laut), Sea Cucumber (bahasa Inggris berarti timun laut), hai-sen (bahasa Cina berarti sea gingseng), dan berbagai sebutan lainnya adalah produk laut yang bernilai tinggi pada masanya.
Biasanya penikmat hasil laut tripang ini adalah orang Cina. Mereka memburu produk tripang (biasanya sudah dikeringkan atau diasapi) sampai ke pusat niaganya, yaitu di Makassar. Selama abad 18 (dan abad - abad sebelum dan sesudahnya), Heather Sutherland menyatakan bahwa Makassar adalah pusat utama pengekspor tripang ke Canton. Tripang dikumpulkan dari berbagai perairan Nusantara (diantaranya: Nusa Tenggara, Sumbawa, Ende, Flores, Timor,Solor, Ambon, Banda, Kendari, Selayar, Aru, Menado, Irian, Kutai, Mandar, Ternate, Buton,Bonerate). Bahkan, pencarian tripang dilakukan sampai ke Pantai utara Australia (Marege danKayu Djawa) oleh para pelaut Makassar - Bugis. Kenapa pedagang Cina begitu memburu tripang? Bagi mereka, tripang selain sebagai obat juga dijadikan menu kelezatan masakan Cina. Komoditi asal laut lainnya adalah ikan asin dan ikan kering. Ikan - ikan tersebut pernah menempati posisi penting dalam perdagangan produk aquatik, khususnya di perairan Barat. Salah satu zona yang banyak menghasilkan ikan adalah Laut Jawa. Sudah sejak lama kawasan ini menjadi penghasil berbagai jenis ikan. Bahkan, dalam pandangan Mashyuri, di Laut Jawa terdapat sekitar 1500 sampai 2000 jenis ikan. Namun, karena pulau Jawa dari masa ke masa tumbuh menjadi pulau padat penduduk, terutama pada abad 19, alhasil permintaan akan bahan makanan pun semakin tinggi dan salah satu kebutuhan pangan tersebut adalah ikan. Ikan telah menjadi konsumsi penting penduduk Jawa yang padat. Bahkan, pemerintah kolonial pun sejak pembukaan abad 20 sampai didepaknya mereka oleh Jepang, harus mengimpor ikan asin dan ikan kering dari Bagan Siapi - api, Sumatera Timur dan masa sebelumnya (akhir abad 19) dari Singapura. Ikan Asin (ikan yang digarami) sejak masa lampau hingga kini walaupun menurun tetap menjadi pilihan menu masyarakat. Karena lebih awet, kenapa? Dengan penggaraman, proses pembusukan dapat dilambatkan sehingga ikan dapat disimpan lebih lama. Peran ikan sebagai lauk pokok di Sumatera, Jawa - Madura, dan sekitarnya, membuat para “pekerja” dapur bereksperimen dengan bumbu. Di Jawa juga Bali misalnya, menu ikan pepes (baik pepes ikan laut atau tawar) ada yang memanfaatkan kelapa muda, cabe, jahe, atau daun sereh dengan kemangi dalam memasaknya (biasanya orang Jawa Barat), tetapi ada juga yang menggunakan hanjuang (kecombrang). Bahkan, apabila “kantong kering”, tidak putus akal, ikanteri atau udang pun dapat pula dipepes. Bagaimana Sumatera? Apabila kita masuk restoran Padang biasanya menu “jempolan”-nyaadalah gulai kepala ikan. Selain di gulai, ikan biasa juga di pangek atau asam padeh. Gulai dan asam padeh sebenarnya memiliki dasar bumbu yang sama, yang membedakannya, asam padeh tidak memakai cabe dan sering ditambahkan asam Belanda. Menu asam padeh biasa dimodifikasi di beberapa tempat dengan bumbu khasnya masing - masing, misalnya di Sumatera Selatan dan Riau, menjadi menu Pindang (biasanya ikan patin atau belida yang dipindang). Lain di Nusantara bagian Barat, lain pula di Timur. Bila di Barat perikanan lebih menonjol, sedangkan di Timur tripang, kerang, kura-kura, telor kura-kura, agar-agar, dan sebagainya lebih dominan. Di antaranya karena hambatan transportasi, harga ikan yang rendah, dan jarangnya penduduk sehingga tidak tercipta daerah pemasaran lokal yang memadai. Hanya beberapa jenisikan yang populer di perairan Timur, seperti tongkol, cakalang, dan tuna, yaitu di Maluku yang biasa dihidangkan dengan dibakar dan diberi cabe. Di Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Utara proses pemasakan yang populer adalah dibakar. Biasanya, ikan yang dibakar adalah baronang, kerapu, dan udang kipas, namun berbeda - beda penggunaan bumbu dan cara penyajiannya. Sungguh masih banyak lagi koleksi menu laut Nusantara Kita yang belum didedah. Masih banyak tradisi kuliner lainnya yang dapat membuat kita “menelan ludah sendiri” apabila melihat dan menghirup aromanya. Perlu giat dalam penelusuran dan penelitian lanjutan dan khusus akanhal ini. Dengan begitu, produk budaya maritim Kita akan lestari dan menjadi simbol kuat kekayaan kuliner bangsa. Pun, dapat meragamkan produk perairan nasional. Bayangkan, dariterasi, kerupuk ikan, dan garam saja Kita sudah dapat menyumbang pendapatan nasional, apabiladikelola dengan apik. Belum lagi yang lain - lainnya. Duhai para pembesar negara, sila dicicipi aset budaya kuliner Kita ini, dijamin maknyus

SD Plus Hang Tuah 1 Jakarta
Jl. Gorontalo III /24 Sungai Bambu Tanjung Priok - Jakarta 14330 INDONESIA
Telp : 021.4371028 / 021.4360514 Fax : 021.4371028
e-Mail : sdplusht1@yahoo.co.id